YKP Gelar Pelatihan Advokasi Kampanye Pencegahan Perkawinan Anak

oleh -493 views
Foto bersama setelah pelatihan advokasi pencegahan perkawinan anak melalui aplikasi ZOOM

Bojonegoro ||Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) mengelar pelatihan Advokasi Kampanye Pencegahan Perkawinan Anak melalui aplikasi video ZOOM, dengan tema “Membangun Opini Publik dan Menggalang Dukungan” pelatihan tersebut dilaksanakan selama empat hari Senin-Kamis, (29/06-02/07/2020).

Dalam pelatihan tersebut di ikuti sebanyak 22 peserta dari beberapa perwakilan lembaga di Bojonegoro diantaranya Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Bojonegoro, Komunitas peduli Perempuan dan Anak Bojonegoro (KP2AB), Forum Penanggulangan Kekerasan Anak dan Perempuan (F-PKADP), dan Gerakan Peduli Perempuan Bojonegoro (GPPB).

Direktur Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP), Nanda Dwinta Sari, menyampaikan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk membekali pemahaman bagaimana dan langkah strategi apa dalam mengampanyekan pencegahan perkawinan anak agar mampu tersampaikan di kalangan masyarakat khususnya di Kabupaten Bojonegoro.

“Diharapkan dengan adanya Pelatihan Advokasi ini peserta mampu memahami betul permasalahan perkawinan anak yang ada di Bojonegoro,” ujar Nanda Dwinta Sari.

Lanjut Nanda, pelatihan visual ini diadakan pertama kali oleh YKP dengan sistem online, meskipun banyak kendala dalam pelatihan seperti jaringan yang tidak stabil, diharapkan ilmu yang di sampaikan tetap terserap dengan baik dan mampu di implementasika di masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut menghadirkan Dosen Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada (UGM) yogyakarta, Dony Hendrocahyono sebagai narasumber.

Dony Hendrocahyono, menjelaskan bahwa dalam mengampanyekan pencegahan perkawinan anak harus sesuai data dan Berpanduan Undang-Undang No.16 Tahun 2019 tentang perkawinan. Bahwa batas minimal perkawinan anak usia 19 Tahun untuk laki-laki maupun perempuan..

“Kita harus menguasai seperti Undang-undang, Perma dan permenag sebab itu senjata dalam berkampanye. Jika tidak, kita akan kalah dalam berkampanye,” kata Dony Hendrocahyono.

Sedangkan, Ketua Komunitas peduli Perempuan dan Anak Bojonegoro (KP2AB), Agus Ari Afandi mengatakan bahwa pelatihan opini publik memberikan manfaat agar bisa melakukan kampanye tepat sasaran Kampanye harus didasari data dan fakta. Saat ini media online bisa menjadi sarana untuk kampanye.

“Semoga bagi kelompok pendamping bisa lebih efektif dalam bersosialisasi agar pencegahan perkawinan anak bisa berkurang,” kata Agus Ari Afandi. (io/sah)